Welcome..Siksta Alia, SH..
Saya kirim text ini ke beberapa teman dan saudara.. These text are running around in my brain for six months..
and finally the moment had come
Dan ketika saya pegang satu kertas yang menuliskan saya lulus dengan nilai A. Saya cuma bisa merasakan :
(1) Feels good to be a Sarjana Hukum. And I just want to Scream Out Loud..NO MORE SCHOOL. . Bukan ngga ada cita-cita terlalu tinggi tapi selama 22 tahun hidup, cuma 4 tahun saya bebas dari sekolah!!! I need some break!!
(2) Akhirnya saya nggak usah ke RSCM lagi. Oh..i cant explain how hard for me to enter that hospital`s door again..Dan saya harus kesana sekali lagi untuk nganterin skripsi saya..
(3) Ngga ada bangun pagi2 trus ke RSPP. Nunggu dengan perut mules untuk menemui orang yang nggak pernah bisa saya temui. What really happened Mister?
(4) Saya ngga perlu memikirkan si S setiap kali jalan, maen, ntn bioskop, ngeluyur, ng gym..
(5) sejujurnya, saya mengalami moment flashback. Moment dimana saya melihat setiap benda dan mengingatkan saya pada satu kejadian. Seperti saya melihat pohon kornel dan inget kalo dulu pernah ngiket nie dan rinta disana pas mereka ulang tahun. Liat apartement zul dan inget pernah bikin kejutan buat zul dan arsha. Inget moment ntn thomas uber bareng. Inget moment sederhana di Kafe. Inget banyak dah..Dan akhirnya sadar..this precious four years will not be forgotten
(6) Dan masa ini tidak akan pernah kembali. Jadi nikmati..
1 Jul 2010
2 Mei 2010
Hei Kamu
Dedicated to my dearest friend…
(14.03.10)
Hei kamu..
Kamu tahu ..
Bagaimana rasanya ketika aku sadar sedang jatuh cinta, disaat yang sama aku juga sadar aku sedang patah hati.
Kamu tahu rasanya ketika jantungku terasa diremas…
karena cemas kamu akan tahu apa yang kurasa.
Cemas kamu pergi ketika aku berharap kamu tetap disini.
Kamu tahu..
Aku menahan napas sampai lemas ketika bertanya, kenapa kamu ada?
Bagaimana kita sampai disini?
Kenapa ada kebetulan-kebetulan kecil yang terus terjadi merangkai kebersamaan kita yang berlari secepat kilat.
Lalu lenyap seperi asap yang keluar dari cerobong kemudian membumbung tinggi menyatu dengan udara dan tak lagi terditeksi keberadaannya.
Lalu tak ada lagi kita.
Tak ada lagi cerita.
Kamu pergi dan tak peduli lagi.
Dan aku dalam diam terus mencari makna dari…
Pengertianmu yang menghangatkan..
Sikapmu yang selalu membuat rasa hatiku tak lagi bias kudefinisikan.
Makna dari kehadiranmu yang tak terprediksi.
Dan semoga suatu saat nanti kamu tahu..
Aku bukan pasir di pantai, yang bisa menghilangkan cetakan jejak hanya dengan usapan air laut.
Ketika kamu menguap dan lenyap
Aku masih menahan rindu yang meletup, sesak yang menyiksa, jantung yang serasa akan meledak hanya untuk mengatakan padamu…
Hei kamu..
Tahukah kamu..
Selama ini ada rasa sayang yang teperangkap dalam hatiku yang tak pernah sempat terungkap..
(14.03.10)
Hei kamu..
Kamu tahu ..
Bagaimana rasanya ketika aku sadar sedang jatuh cinta, disaat yang sama aku juga sadar aku sedang patah hati.
Kamu tahu rasanya ketika jantungku terasa diremas…
karena cemas kamu akan tahu apa yang kurasa.
Cemas kamu pergi ketika aku berharap kamu tetap disini.
Kamu tahu..
Aku menahan napas sampai lemas ketika bertanya, kenapa kamu ada?
Bagaimana kita sampai disini?
Kenapa ada kebetulan-kebetulan kecil yang terus terjadi merangkai kebersamaan kita yang berlari secepat kilat.
Lalu lenyap seperi asap yang keluar dari cerobong kemudian membumbung tinggi menyatu dengan udara dan tak lagi terditeksi keberadaannya.
Lalu tak ada lagi kita.
Tak ada lagi cerita.
Kamu pergi dan tak peduli lagi.
Dan aku dalam diam terus mencari makna dari…
Pengertianmu yang menghangatkan..
Sikapmu yang selalu membuat rasa hatiku tak lagi bias kudefinisikan.
Makna dari kehadiranmu yang tak terprediksi.
Dan semoga suatu saat nanti kamu tahu..
Aku bukan pasir di pantai, yang bisa menghilangkan cetakan jejak hanya dengan usapan air laut.
Ketika kamu menguap dan lenyap
Aku masih menahan rindu yang meletup, sesak yang menyiksa, jantung yang serasa akan meledak hanya untuk mengatakan padamu…
Hei kamu..
Tahukah kamu..
Selama ini ada rasa sayang yang teperangkap dalam hatiku yang tak pernah sempat terungkap..
30 Mar 2010
My Name is Khan

Menurut saya film ini benar-benar bagus..
Bukan karena bisa membuat saya banjir air mata tapi karena bisa membuat saya terinspirasi. Sebuah inspirasi untuk mempunyai penyadaran baru atas pemikiran saya selama ini.
Sebuah pemikiran bahwa ternyata saya, tidak jauh berbeda dengan teroris. Ya! Saya juga kaget begitu sadar bahwa insan jahat yang dikatakan Rizwan sudah meracuni pikiran saya. Saya baru sadar bahwa selama ini saya ikut-ikutan menilai seseorang dari baju mereka, atribut mereka, wajah mereka, kepercayaan mereka dan bukan dari bagaimana mereka memperlakukan manusia lain.
Saya sadar ternyata saya mempunyai kecurigaan yang sama karena merasa dunia terkotak-kotak dan kotak dimana saya berada adalah kotak yang terbaik. Dan saya harus menghindari manusia lain dari kotak yang saya yakini berisi orang jahat semua.
Dan kecurigaan inilah yang ternyata membuat dunia ini begitu menakutkan. Kecurigaan yang bertebaran dimana-mana yang mengikat seseorang untuk bersikap bebas kepada orang lain yang berbeda. Kecurigaan yang bahkan membuat kita sendiri lelah. Kecurigaan mempersedikit pilihan, membuat ketakutan, membuat jarak penuh permusuhan yang tidak diperlukan.
Kecurigaan seperti ini yang akhirnya membunuh Sameer. Seorang anak baik dan tidak bersalah. Sameer yang bahkan tidak tau terorisme itu apa. Sameer yang juga merasa kesedihan mendalam untuk setiap manusia yang meninggal di menara kembar. Tapi dia yang pergi, hanya karena kecurigaan yang tidak beralasan.
Dunia sudah cukup menakutkan, perang sudah menghancurkan jutaan mimpi. Bisakah kita berhenti saling mencurigai? Kita, orang-orang baik yang hanya ingin hidup tenang, bahagia, yang hanya ingin bermimpi dan membuat nyata mimpi-mimpi itu sudah terlalu lelah atas semua kebencian yang ada selama ini. Kita bisa bersatu bukan untuk kembali berperang dan melawan tapi bersatu untuk menjaga hati jauh dari kecurigaan dan kebencian tanpa alasan.
Memang tulisan ini terdengar terlalu naïf. Dunia sudah terlalu kacau. Milliaran orang sudah berubah menjadi pribadi yang penuh kecurigaan. Hanya keajaiban yang bisa membuat dunia berubah menjadi tempat yang baik untuk kita semua.
Maka ada baiknya kita menjadi keajaiban itu sendiri. Satu persatu dari kita. Yah, selalu ada hitungan pertama sebelum sampai ke hitungan kesejuta. Selalu diperlukan satu rupiah untuk menggenapi satu milliar rupiah. Selalu diperlukan satu orang yang memulai untuk melakukan perubahan di dalam dunia ini. Satu orang, kita masing-masing.
5 Feb 2010
OMELAN
Dalam puncak pencapaian terkadang saya suka berhenti sejenak. Menatap ke belakang, mengumpulkan kembali kepingan-kepingan perjuangan yang membawa saya ke pucak. Kadang menertawakan kelakuan saya. Kadang saya seperti menatap kagum pada diri saya atas keteguhan yang berhadiah kemenangan. Kadang mencemooh diri saya atas kebodohan saya, tangis yang tiba-tiba menjadi konyol, tingkah yang dirasa sangat berlebihan.
Di atas segalanya, ketika sudah di puncak segala lelah, marah, putus asa, sedih, kesal seperti menguap dalam sekejap. Semua perjalanan panjang seperti hanya terjadi satu malam, kalimat “ gua nggak akan mau ngulangin ini lagi” seperti terpental begitu saja. Kita tiba-tiba merasa menjadi jagoan dan tak gentar untuk kembali bertarung dan mengulangi kembali setiap penderitaan yang dulu kita umpah dan maki.
Sekarang saya ada dalam perjalanan melelahkanitu. Saya ingin menuliskan kekesalan itu dan membiarkan diri saya di masa depan yang sudah berdiri dengan senyum kemenangan berkomentar.
“Gua lagi pusing sama skripsi yang nggak ada bener-benernya ini. Masalah topic semester lalu yang mental, udah bias gua laluin. Sekarang gua udah ada di tahap membangun topic baru gua untuk bsia menjadi sebuah skripsi. Tapi setiap gua lagi on fire selalu ada aja pemadan apinya dan membuat gua jadi down. Gua sebel kenapa tiba-tiba jadi nggak tahu apa dulu yang harus dilakuin. Jadi sebel karena gua susah banget dapet ijin penelitian di RS. Kesel karena hrus muter2 di RSCM berjam-jam keliling di satu banguan yang abru pertama kali gua datengin dan nggak tahu harus ngapain juga kemana. Kesel karena akhirnya gua harus kesana lagi. Kesel karena RS yang jadi harapan gua malah membunuh harapan gua sendiri. Kesel karena semua rencana yang udah gua siapin meleset. Terkhai rgua takut harapan gua tak tercapai”
So saya ingin tahu apa komentar diri saya beberapa bulan kedepan.
Di atas segalanya, ketika sudah di puncak segala lelah, marah, putus asa, sedih, kesal seperti menguap dalam sekejap. Semua perjalanan panjang seperti hanya terjadi satu malam, kalimat “ gua nggak akan mau ngulangin ini lagi” seperti terpental begitu saja. Kita tiba-tiba merasa menjadi jagoan dan tak gentar untuk kembali bertarung dan mengulangi kembali setiap penderitaan yang dulu kita umpah dan maki.
Sekarang saya ada dalam perjalanan melelahkanitu. Saya ingin menuliskan kekesalan itu dan membiarkan diri saya di masa depan yang sudah berdiri dengan senyum kemenangan berkomentar.
“Gua lagi pusing sama skripsi yang nggak ada bener-benernya ini. Masalah topic semester lalu yang mental, udah bias gua laluin. Sekarang gua udah ada di tahap membangun topic baru gua untuk bsia menjadi sebuah skripsi. Tapi setiap gua lagi on fire selalu ada aja pemadan apinya dan membuat gua jadi down. Gua sebel kenapa tiba-tiba jadi nggak tahu apa dulu yang harus dilakuin. Jadi sebel karena gua susah banget dapet ijin penelitian di RS. Kesel karena hrus muter2 di RSCM berjam-jam keliling di satu banguan yang abru pertama kali gua datengin dan nggak tahu harus ngapain juga kemana. Kesel karena akhirnya gua harus kesana lagi. Kesel karena RS yang jadi harapan gua malah membunuh harapan gua sendiri. Kesel karena semua rencana yang udah gua siapin meleset. Terkhai rgua takut harapan gua tak tercapai”
So saya ingin tahu apa komentar diri saya beberapa bulan kedepan.
4 Jan 2010
SELAMAT TAHUN BARU
Kamis 31 Desember 2009, saat sedang membereskan meja belajar, saya temukan dua kotak kembang api. Kembang api yang tepat saya beli satu tahun yang lalu ketika saya akan merayakan tahun baru di rumah teman saya. Waktu itu kita beli satu pack kemudian masih tersisa beberapa kotak dan dua diataranya saya bawa pulang.
Ketika itu saya merencanakan akan menyalakan kembang api itu di hari ulang tahun saya yang hanya berjarak 5 hari. Tapi kemudian saya kehilangan mood dan batal. Lalu saya membuat rencana lagi untuk menggunakan kembang api itu beberapa kali di tahun 2009 dan kesemuanya gagal.
Sampai di tanggal 31 desember 2009, satu tahun kemudian, di tanggal yang sama ketika saya membeli kembang api itu, dua kotak berwarna merah itu masih ada. Rencana satu tahun lalu yang saya buat tak pernah terealisasi sampai di akhir tahun. Walaupun sudah 21 tahun hidup, saya tak pernah benar-benar sadar 365 hari itu bisa berlalu dalam sekejap mata.
Satu tahun yang penuh dengan jutaan kejadian bisa terasa begitu singkat ketika kita sudah sampai di penghujung tahun.
Kadang saya tak sadar bahwa kita sedang bekejaran dengan waktu yang terus berusaha mendahului kita sampai di garis finis. Garis finish dimana kita tidak bisa lagi mewujudkan apa yang kita inginkan, ketika semuanya dinyatakan dengan kata terlambat. Ketika mimpi kita sudah menjadi asap yang terbang menyatakan salam selamat tinggal pada kita.
Kembang api itu masih di sana. Diam tanpa arti, tak bisa menyala terang dalam kegelapan karena ulah saya. Akibat dari kemalasam-kemalasan, penundaan-penundaan dan kepandaian saya membuat alasan-alasan pembenar.
Mungkin, sebagian dari kita juga masih di tempat yang sama. Diam tanpa arti padahal seharusnya bisa bersinar untuk diri kita dan dunia ini. Semua karena ulah kita masing-masing.
Jika tahun 2009 telah terlewat dengan sinar yang masih tersembunyi dalam diri kita. Jangan biarkan tahun 2010 mendung karena terhalang cahaya kita semua.
Selamat Tahun Baru Teman..
Selamat Menyambut tahun 2010..
Semoga kita siap menyambut tahun yang lebih baik lagi…
Ketika itu saya merencanakan akan menyalakan kembang api itu di hari ulang tahun saya yang hanya berjarak 5 hari. Tapi kemudian saya kehilangan mood dan batal. Lalu saya membuat rencana lagi untuk menggunakan kembang api itu beberapa kali di tahun 2009 dan kesemuanya gagal.
Sampai di tanggal 31 desember 2009, satu tahun kemudian, di tanggal yang sama ketika saya membeli kembang api itu, dua kotak berwarna merah itu masih ada. Rencana satu tahun lalu yang saya buat tak pernah terealisasi sampai di akhir tahun. Walaupun sudah 21 tahun hidup, saya tak pernah benar-benar sadar 365 hari itu bisa berlalu dalam sekejap mata.
Satu tahun yang penuh dengan jutaan kejadian bisa terasa begitu singkat ketika kita sudah sampai di penghujung tahun.
Kadang saya tak sadar bahwa kita sedang bekejaran dengan waktu yang terus berusaha mendahului kita sampai di garis finis. Garis finish dimana kita tidak bisa lagi mewujudkan apa yang kita inginkan, ketika semuanya dinyatakan dengan kata terlambat. Ketika mimpi kita sudah menjadi asap yang terbang menyatakan salam selamat tinggal pada kita.
Kembang api itu masih di sana. Diam tanpa arti, tak bisa menyala terang dalam kegelapan karena ulah saya. Akibat dari kemalasam-kemalasan, penundaan-penundaan dan kepandaian saya membuat alasan-alasan pembenar.
Mungkin, sebagian dari kita juga masih di tempat yang sama. Diam tanpa arti padahal seharusnya bisa bersinar untuk diri kita dan dunia ini. Semua karena ulah kita masing-masing.
Jika tahun 2009 telah terlewat dengan sinar yang masih tersembunyi dalam diri kita. Jangan biarkan tahun 2010 mendung karena terhalang cahaya kita semua.
Selamat Tahun Baru Teman..
Selamat Menyambut tahun 2010..
Semoga kita siap menyambut tahun yang lebih baik lagi…
27 Okt 2009
Sakit Hati `dialogue
A : Gua pengen bales dendam ke dia
B : Buat apa?
A : Biar gua puas. Gua cuman pengen ngeliat dia ngerasain apa yang gua rasain
B : Lo nggak bakal bisa nyakitin dia
A : Kenapa nggak bisa?
B : Karena lo masih sayang banget sama dia
A : Terus?
B : Nyakitin orang yang lo sayang sama kayak nyakitin diri lo sendiri. Paling ntar lo yang tambah sakit.
B : Buat apa?
A : Biar gua puas. Gua cuman pengen ngeliat dia ngerasain apa yang gua rasain
B : Lo nggak bakal bisa nyakitin dia
A : Kenapa nggak bisa?
B : Karena lo masih sayang banget sama dia
A : Terus?
B : Nyakitin orang yang lo sayang sama kayak nyakitin diri lo sendiri. Paling ntar lo yang tambah sakit.
14 Sep 2009
Tuhan bukan untuk diperdebatkan
Lama-lama saya lelah mendengarkan semua orang berdebat tentang keyakinannya atau tentang Tuhan yang diyakininya.
Kenapa kita begitu sibuk memperdebatkan ‘Dia’?
Tuhan layak untuk disembah, dipuja, dihormati, dicintai tapi bukan untuk diperdebatkan.
Bagaimana mungkin saya bisa meyakini apa yang orang lain percaya kektika hati kami berbeda? Bagaimana saya bisa melihat citra Tuhan yang serupa ketika mata dan otak kita tidak ada yang sama?
Berapa waktu yang kita buang untk bicara dan berdebat padahal bisa kita gunakan untuk berdoa, berterima kasih, beribadat dan lebih mencintai Tuhan?
Ada pembicaraan saya dengan Ivina yang menarik beberapa hari lalu. Ketika kita berusaha meyakinkan apa yang kita percaya kepada orang lain sebagai yang terbaik, di kala ini siapa yang kita perjuangkan? Tuhan atau Ego kita?
Lupakah kita betapa Tuhan Maha Kuasa? Kekuatan kita tidak ada secuil dari Kekuatan Tuhan?
Tuhan bsia melenyapkan perbedaan, menyamakan penglihatan dan menyeragamkan hati kita semua.
Tapi Tuhan tidak melakukannya.
Lalu kenapa kita harus berjalan berlawanan dengan kehendaknya?
Padahal kita mengaku mencintainya?
Kenapa kita harus selalu saling menyakiti?
Benarkah semua ini demi Tuhan kita masing-masing? Benarkan bukan karena ego kita sebagai manusia yang ingin dianggap paling benar?
Tuhan bisa menghilangkan siapa saja yang tidak layak menghuni bumi ini hanya dalam sekejap mata tanpa memerlukan bantuan kita.
Apa jeleknya perbedaan? Kalau kita lihat perbedaan kecil yang ada di Negara kita. Ketika lebaran atau natalan akan ada yang bisa berjaga-jaga ketika yang lain beribadat. Ketika natal saya ingat pemuda agama lain yang menjadi petugas ketertiban sehingga umat kristiani bisa beribadat dengan tenang. Itu gunanya keragaman bukan? Untuk saling melengkapi? Tapi keragaman kita lebih sering menjadi bencana.Kenapa Ya?
Tidak perlu dijawab karena saya menulis untuk bercerita bukan membuka forum perdebatan lagi.
Saya jadi ingat sebuh buku judulnya..Eat, Pray, Love..tokoh utamanya yang juga penulisnya Liz, bertemu dengan seorang `dukun` dari Bali. Si dukun bilang ‘ketika orang memperdebatkan agama kita dengarkan saja lalu pulang dan berdoalah menurut agamamu’
Nasihat yang sangat bijak menurut saya karena sekali kita masuk dalam perdebatan tentang agama kita akan masuk ke dalam perdebatan yang tak akan pernah usai. Tidak bisa dipungkiri bahwa menurut saya, manusia adalah makhluk-makhluk penuh ego yang sebenarnya tidak tahu begitu banyak tentang apa arti dunia dan kehidupan tapi selalu merasa sudah tahu segalanya.
Kenapa kita begitu sibuk memperdebatkan ‘Dia’?
Tuhan layak untuk disembah, dipuja, dihormati, dicintai tapi bukan untuk diperdebatkan.
Bagaimana mungkin saya bisa meyakini apa yang orang lain percaya kektika hati kami berbeda? Bagaimana saya bisa melihat citra Tuhan yang serupa ketika mata dan otak kita tidak ada yang sama?
Berapa waktu yang kita buang untk bicara dan berdebat padahal bisa kita gunakan untuk berdoa, berterima kasih, beribadat dan lebih mencintai Tuhan?
Ada pembicaraan saya dengan Ivina yang menarik beberapa hari lalu. Ketika kita berusaha meyakinkan apa yang kita percaya kepada orang lain sebagai yang terbaik, di kala ini siapa yang kita perjuangkan? Tuhan atau Ego kita?
Lupakah kita betapa Tuhan Maha Kuasa? Kekuatan kita tidak ada secuil dari Kekuatan Tuhan?
Tuhan bsia melenyapkan perbedaan, menyamakan penglihatan dan menyeragamkan hati kita semua.
Tapi Tuhan tidak melakukannya.
Lalu kenapa kita harus berjalan berlawanan dengan kehendaknya?
Padahal kita mengaku mencintainya?
Kenapa kita harus selalu saling menyakiti?
Benarkah semua ini demi Tuhan kita masing-masing? Benarkan bukan karena ego kita sebagai manusia yang ingin dianggap paling benar?
Tuhan bisa menghilangkan siapa saja yang tidak layak menghuni bumi ini hanya dalam sekejap mata tanpa memerlukan bantuan kita.
Apa jeleknya perbedaan? Kalau kita lihat perbedaan kecil yang ada di Negara kita. Ketika lebaran atau natalan akan ada yang bisa berjaga-jaga ketika yang lain beribadat. Ketika natal saya ingat pemuda agama lain yang menjadi petugas ketertiban sehingga umat kristiani bisa beribadat dengan tenang. Itu gunanya keragaman bukan? Untuk saling melengkapi? Tapi keragaman kita lebih sering menjadi bencana.Kenapa Ya?
Tidak perlu dijawab karena saya menulis untuk bercerita bukan membuka forum perdebatan lagi.
Saya jadi ingat sebuh buku judulnya..Eat, Pray, Love..tokoh utamanya yang juga penulisnya Liz, bertemu dengan seorang `dukun` dari Bali. Si dukun bilang ‘ketika orang memperdebatkan agama kita dengarkan saja lalu pulang dan berdoalah menurut agamamu’
Nasihat yang sangat bijak menurut saya karena sekali kita masuk dalam perdebatan tentang agama kita akan masuk ke dalam perdebatan yang tak akan pernah usai. Tidak bisa dipungkiri bahwa menurut saya, manusia adalah makhluk-makhluk penuh ego yang sebenarnya tidak tahu begitu banyak tentang apa arti dunia dan kehidupan tapi selalu merasa sudah tahu segalanya.
Langganan:
Postingan (Atom)