1. Kenapa orang menamakan suara bergema itu echo (dalam bahasa Inggris)?
Jadi dahulu ada peri bernama Echo yang membuat dewi Hera geram karena peri ini sering bercerita panjang lebar kepada Hera untuk mneghalangi Hera menemukan Zeus sedang berselingkuh dengan para peri. Mengetahui ini dewi Hera mengambil suara Echo dan membuat dia hanya bisa mengikuti perkataan orang lain.
Echo kemudian jatuh cinta kepada Narcissus tapi dia tidak bisa mengutarakan satu katapun. Narcissus merasa diikuti lalu dia bertanya,” Is anyone here?,” Lalu Echo tanpa dia sadari berkata. “Here.” Lalu ketika Narcissus berkata,” Come to me!,” Echo hanya bisa berkata “Me” tanpa dia bisa kendalikan juga.
Narcissus ketakutan lalu berlari menjauhi Echo. Lama kelamaan Echo menghilang dan hanya ada suaranya yang diingat.
2. Kenapa orang menamakan orang yang terlalu mengangumi dirinya itu Narsis?
Narscissus suka menghina dalam hal yang berhubungan dengan mencintai. Hal ini membuat kesal dewi Nemesis, oleh karena itu dia memutuskan untuk menghukum Narcissus. Suatu hari, Narcissus berbaring di sebuah air terjun dan tergila-gila pada refleksi dirinya sendiri. Berkali-kali dia mencoba untuk mencium dirinya sendiri. Dia juga mencoba untuk memeluk bayangannya yang tercermin di permukaan air. Lama-kelamaan cintanya merusak diri Narcissus sampai akhirnya dia meninggal.
27 Sep 2010
17 Sep 2010
Salam dari Tidung
Minggu kemarin saya menghabiskan dua hari berlibur di Pulau Tidung. Liburan saya di Tidung cukup menyenangkan tapi harusnya bisa sangat menyenangkan. Liburan saya di Tidung cukup berkesan tapi seharusnya bisa sangat bekesan. Liburan saya ke Tidung harusnya bisa membuat saya ingin kembali tapi sepertinya tidak. Alasannya hanya satu : SAMPAH.
Di setiap pantai berpasir putih yang ditutupi air bening yang kebiruan selalu ada bungkus pop mie, bungkus plastik dan berbagai bentuk sampah plastik lainnya. Bahkan saya tidak bisa menemukan lima meter pantai tanpa ‘hiasan sampah’. Padahal dengan konsep wisata cukup menarik dan terjangkau. Hanya dengan 300 ribu kita bisa menghabiskan dua hari satu malam kita di Pulau Tidung tanpa harus mengeluarkan uang lagi untuk tempat tinggal, makan empat kali, sepeda yang bisa dipakai sendari datang sampai pulang, sepuluh ikan bakar siap santap, fasilitas snorkling dan seorang guide yang ramah. Menggiurkan bukan? Dan sekali lagi semuanya rusak hanya karena SAMPAH.
Bahkan saya mengingat pembicaraan yang dilakukan teman seperjalanan saya. Salah satu dari mereka bertanya kepada saya dan saudara saya ketika kami masuk ke air, “Di situ airnya bersih nggak?,”. Kemudian sambil memandang sekitar saudara saya berkata,”Kamu nanya bersih apa nggak? Di sini ada bungkus rinso sih,” ucapnya lagi.
Saya tertawa, miris juga mendengarnya. Menyalahkan penduduk sekitar atau pemerintah bukanlah hal yang bijak. Tidung adalah bagian dari NKRI sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengidentifikasi masalah dan mencari jalan keluarnya.
Masyarakat harus tahu benar apa yang bisa mereka dapatkan jika Tidung menjadi obyek wisata utama. Menurut perbincangan saya dengan guide yang menemani saya, pengunjung terbesar ke Pulau Tidung hadir di bulan April-Mei, pengunjung mencapai 4000an orang. Sejak Pulau Tidung mulai terkenal di awal tahun, ini adalah puncak teramai Pulau Tidung. Lalu setelah itu pengunjung Pulau Tidung sampai lebaran kemarin berkisar di angka 2000an. Bisa kita lihat bahwa penduduk masih menikmati tingginya antusias masyarakat terhadap Pulau Tidung yang baru saja menjadi primadona. Namun mereka tidak memikirkan rencana jauh ke depan seperti bagaimana membawa orang-orang yang sudah datang itu kembali lagi atau memikirkan cara supaya orang-orang yang datang memberikan promosi gratis ke teman-teman mereka. Karena yang saya rasakan ketika pulang, saya tidak ingin memberikan promosi gratis tentang Pulau Tidung ke teman-teman saya. Saya takut mereka sama kecewanya dengan saya.
Masyarakat harus bersipa-siap menerima kenyataan bahwa dalam jangka waktu yang tak terlalu lama Tidung akan benar-benar sepi dari pengunjung kalau harus terus dipaksa berebut tempat dengan sampah. Kalau tidak ingin ini terjadi, masyarakat harus lekas melakukan langkah penyelamatan pada ruamahnya sendiri.
Langkah kecil yang harus segara dilakukan adalah menyediakan satu bedan yang amat krusialdalam jangka waktu cepat, TEMPAT SAMPAH. Tidak banyak tempat sampah yang disediakan selama saya berputar di Pulau Tidung Besar bahkan di Pulai Tidung Kecil saya tidak melihat tempat sampah yang layak. Begitu saya sampai di Tidung kecil yang saya lihat adalah sampah yang berserakan, kardus bekas yang juga berserakan yang beberapa diantaranya akhirnya digunakan untuk tempat sampah. Oleh karena tidak ada tempat sampah yang bisa digunakan untuk membuang sampah.
Bersamaan dengan itu, warga harus dibuat lebih sadar dalam menjaga kebersihan. Mungkin mereka tidak membuang sampah sembarangan, mungkin pengunjung nakal yang melakukannya, tapi tetap tuan rumah harus menjaga rumahnya sendiri untuk kenyamanannya dan kenyamanan tamu. Membuka rumah untuk orang luar memang memberikan banyak konsekuensi termasuk berhubungan dengan tamu yang jorok. Itu konsekuensi yang tak terelakkan.
Tapi bukan berarti pengunjung bisa seenakanya saja membuang jejaknya dimana-mana. Kita tidak bisa terus menerus mendatangi satu pulau mengotorinya kemudian berpindah ke pulau lain yang masih bersih sampai akhrnya kotor lagi dan berpindah lagi. Kita manusia berpendidikan harusnya bisa tahu hal yang sangat mudah bahwa memang hanya tempat sampahlah satu-satunya tempat untuk sampah itu sendiri.
Masalah-masalah lain seperti sarana yang rusak juga perlu diperbaiki. Terutama jembatan antara Tidung besar dan Tidung kecil. Jembatan yang tersusun dari kayu-kayu kelapa, yang aus menyebabakan banyak lubang di jembatan itu membuat siapapun yang berjalan di atasnya tidak boleh lengah sedikitpun. Juga gazebo roboh yang ada di salah satu sisi jembatan akibat serbuan angin malam juga harus menjadi perhatian. Apa yang dirasakan orang yang berjalan di sebuh jembatan yang bolong-bolong dan gazebo yang roboh? Pasti bukan kenyamanan.
Terakhir harus ada pemimpin yang menuntun laju semua pembenahan ini. Ini tugas pemerintah, membantu masyarakat membuat rencana jangka panjang untuk wisata di Tidung. Sebuah konsep wisata yang tidak bertentangan dengan adat masyarakat atau malah bisa memunculkan keunikan dari masyarakat yang bisa membuat wisata Pulau Tidung terlihat lebih menarik. Tentu juga menyiapkan masyarakat sekitar untuk mewujudkan konsep tersebut.
Hal-hal seperti penyediaan tenaga kebersihan seharusnya bisa menjadi pilihan penyelesaian. Selain memang kesadaran merawat warga yang harus dibangkitkan. Kalau mereka tahu menjaga kebersihan ini akan menguntungkan mereka pasti kemauan itu akan bangkit dengan sendirinya. Mungkin ketika mereka sudah tahu potensi tempat tinggal mereka dan apa yang bisa mereka capai dalam jangka panjang, tidak mustahil kedepannya mereka akan lebih sadar juga dalam pembenahan fasilitas yang rusak. Tanpa perlu terus menerus menunggu tuntunan dari pemerintah setempat. Ini tentang bagaimana menjadikan tuan rumah bisa menjaga rumahnya sendiri. Jangan sampai Pulau Tidung hanya bertahan sampai akhir tahun saja.
Saya pulang sambil membawa salam manis dari ikan-ikan, pantai, karang, air laut yang biru. Mereka memohon dengan sangat perlindungan dari semua warga masyarakat.
Di setiap pantai berpasir putih yang ditutupi air bening yang kebiruan selalu ada bungkus pop mie, bungkus plastik dan berbagai bentuk sampah plastik lainnya. Bahkan saya tidak bisa menemukan lima meter pantai tanpa ‘hiasan sampah’. Padahal dengan konsep wisata cukup menarik dan terjangkau. Hanya dengan 300 ribu kita bisa menghabiskan dua hari satu malam kita di Pulau Tidung tanpa harus mengeluarkan uang lagi untuk tempat tinggal, makan empat kali, sepeda yang bisa dipakai sendari datang sampai pulang, sepuluh ikan bakar siap santap, fasilitas snorkling dan seorang guide yang ramah. Menggiurkan bukan? Dan sekali lagi semuanya rusak hanya karena SAMPAH.
Bahkan saya mengingat pembicaraan yang dilakukan teman seperjalanan saya. Salah satu dari mereka bertanya kepada saya dan saudara saya ketika kami masuk ke air, “Di situ airnya bersih nggak?,”. Kemudian sambil memandang sekitar saudara saya berkata,”Kamu nanya bersih apa nggak? Di sini ada bungkus rinso sih,” ucapnya lagi.
Saya tertawa, miris juga mendengarnya. Menyalahkan penduduk sekitar atau pemerintah bukanlah hal yang bijak. Tidung adalah bagian dari NKRI sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengidentifikasi masalah dan mencari jalan keluarnya.
Masyarakat harus tahu benar apa yang bisa mereka dapatkan jika Tidung menjadi obyek wisata utama. Menurut perbincangan saya dengan guide yang menemani saya, pengunjung terbesar ke Pulau Tidung hadir di bulan April-Mei, pengunjung mencapai 4000an orang. Sejak Pulau Tidung mulai terkenal di awal tahun, ini adalah puncak teramai Pulau Tidung. Lalu setelah itu pengunjung Pulau Tidung sampai lebaran kemarin berkisar di angka 2000an. Bisa kita lihat bahwa penduduk masih menikmati tingginya antusias masyarakat terhadap Pulau Tidung yang baru saja menjadi primadona. Namun mereka tidak memikirkan rencana jauh ke depan seperti bagaimana membawa orang-orang yang sudah datang itu kembali lagi atau memikirkan cara supaya orang-orang yang datang memberikan promosi gratis ke teman-teman mereka. Karena yang saya rasakan ketika pulang, saya tidak ingin memberikan promosi gratis tentang Pulau Tidung ke teman-teman saya. Saya takut mereka sama kecewanya dengan saya.
Masyarakat harus bersipa-siap menerima kenyataan bahwa dalam jangka waktu yang tak terlalu lama Tidung akan benar-benar sepi dari pengunjung kalau harus terus dipaksa berebut tempat dengan sampah. Kalau tidak ingin ini terjadi, masyarakat harus lekas melakukan langkah penyelamatan pada ruamahnya sendiri.
Langkah kecil yang harus segara dilakukan adalah menyediakan satu bedan yang amat krusialdalam jangka waktu cepat, TEMPAT SAMPAH. Tidak banyak tempat sampah yang disediakan selama saya berputar di Pulau Tidung Besar bahkan di Pulai Tidung Kecil saya tidak melihat tempat sampah yang layak. Begitu saya sampai di Tidung kecil yang saya lihat adalah sampah yang berserakan, kardus bekas yang juga berserakan yang beberapa diantaranya akhirnya digunakan untuk tempat sampah. Oleh karena tidak ada tempat sampah yang bisa digunakan untuk membuang sampah.
Bersamaan dengan itu, warga harus dibuat lebih sadar dalam menjaga kebersihan. Mungkin mereka tidak membuang sampah sembarangan, mungkin pengunjung nakal yang melakukannya, tapi tetap tuan rumah harus menjaga rumahnya sendiri untuk kenyamanannya dan kenyamanan tamu. Membuka rumah untuk orang luar memang memberikan banyak konsekuensi termasuk berhubungan dengan tamu yang jorok. Itu konsekuensi yang tak terelakkan.
Tapi bukan berarti pengunjung bisa seenakanya saja membuang jejaknya dimana-mana. Kita tidak bisa terus menerus mendatangi satu pulau mengotorinya kemudian berpindah ke pulau lain yang masih bersih sampai akhrnya kotor lagi dan berpindah lagi. Kita manusia berpendidikan harusnya bisa tahu hal yang sangat mudah bahwa memang hanya tempat sampahlah satu-satunya tempat untuk sampah itu sendiri.
Masalah-masalah lain seperti sarana yang rusak juga perlu diperbaiki. Terutama jembatan antara Tidung besar dan Tidung kecil. Jembatan yang tersusun dari kayu-kayu kelapa, yang aus menyebabakan banyak lubang di jembatan itu membuat siapapun yang berjalan di atasnya tidak boleh lengah sedikitpun. Juga gazebo roboh yang ada di salah satu sisi jembatan akibat serbuan angin malam juga harus menjadi perhatian. Apa yang dirasakan orang yang berjalan di sebuh jembatan yang bolong-bolong dan gazebo yang roboh? Pasti bukan kenyamanan.
Terakhir harus ada pemimpin yang menuntun laju semua pembenahan ini. Ini tugas pemerintah, membantu masyarakat membuat rencana jangka panjang untuk wisata di Tidung. Sebuah konsep wisata yang tidak bertentangan dengan adat masyarakat atau malah bisa memunculkan keunikan dari masyarakat yang bisa membuat wisata Pulau Tidung terlihat lebih menarik. Tentu juga menyiapkan masyarakat sekitar untuk mewujudkan konsep tersebut.
Hal-hal seperti penyediaan tenaga kebersihan seharusnya bisa menjadi pilihan penyelesaian. Selain memang kesadaran merawat warga yang harus dibangkitkan. Kalau mereka tahu menjaga kebersihan ini akan menguntungkan mereka pasti kemauan itu akan bangkit dengan sendirinya. Mungkin ketika mereka sudah tahu potensi tempat tinggal mereka dan apa yang bisa mereka capai dalam jangka panjang, tidak mustahil kedepannya mereka akan lebih sadar juga dalam pembenahan fasilitas yang rusak. Tanpa perlu terus menerus menunggu tuntunan dari pemerintah setempat. Ini tentang bagaimana menjadikan tuan rumah bisa menjaga rumahnya sendiri. Jangan sampai Pulau Tidung hanya bertahan sampai akhir tahun saja.
Saya pulang sambil membawa salam manis dari ikan-ikan, pantai, karang, air laut yang biru. Mereka memohon dengan sangat perlindungan dari semua warga masyarakat.
16 Agu 2010
WAKTU
Mari berjalan bersama waktu..
Bersamanya kita bisa menyembuhkan diri..
Asal kita mau menggali, apa yang sebenarnya terjadi..
Sampai memahami semuanya memang harus seperti ini..
Berakhir pada rasa ikhlas untuk merasakan pahit karena dengan kesabaran penuh akhirnya tahu ada manis dibaliknya…
Namun..
Waktu tak akan membantu jika..
Kita terus menerus mencoba menciptakan perasaan palsu..
Hanya untuk berpaling dari apa yang kita harus tahu..
karena hanya ingin ada di dunia yang kita mau..
Kita mencoba selalu..
Meninggalkan yang nyata, berlari ke dalam bayangan baru ..
Terus begitu..
Sampai akhirnya kita hanya menunggu..
Tenggelam bersama waktu..
Karena kemanapun kita berlari kita akan selalu kembali sebelum kita benar-benar mengerti..
Bersamanya kita bisa menyembuhkan diri..
Asal kita mau menggali, apa yang sebenarnya terjadi..
Sampai memahami semuanya memang harus seperti ini..
Berakhir pada rasa ikhlas untuk merasakan pahit karena dengan kesabaran penuh akhirnya tahu ada manis dibaliknya…
Namun..
Waktu tak akan membantu jika..
Kita terus menerus mencoba menciptakan perasaan palsu..
Hanya untuk berpaling dari apa yang kita harus tahu..
karena hanya ingin ada di dunia yang kita mau..
Kita mencoba selalu..
Meninggalkan yang nyata, berlari ke dalam bayangan baru ..
Terus begitu..
Sampai akhirnya kita hanya menunggu..
Tenggelam bersama waktu..
Karena kemanapun kita berlari kita akan selalu kembali sebelum kita benar-benar mengerti..
1 Jul 2010
and That Day Finally Came..
Welcome..Siksta Alia, SH..
Saya kirim text ini ke beberapa teman dan saudara.. These text are running around in my brain for six months..
and finally the moment had come
Dan ketika saya pegang satu kertas yang menuliskan saya lulus dengan nilai A. Saya cuma bisa merasakan :
(1) Feels good to be a Sarjana Hukum. And I just want to Scream Out Loud..NO MORE SCHOOL. . Bukan ngga ada cita-cita terlalu tinggi tapi selama 22 tahun hidup, cuma 4 tahun saya bebas dari sekolah!!! I need some break!!
(2) Akhirnya saya nggak usah ke RSCM lagi. Oh..i cant explain how hard for me to enter that hospital`s door again..Dan saya harus kesana sekali lagi untuk nganterin skripsi saya..
(3) Ngga ada bangun pagi2 trus ke RSPP. Nunggu dengan perut mules untuk menemui orang yang nggak pernah bisa saya temui. What really happened Mister?
(4) Saya ngga perlu memikirkan si S setiap kali jalan, maen, ntn bioskop, ngeluyur, ng gym..
(5) sejujurnya, saya mengalami moment flashback. Moment dimana saya melihat setiap benda dan mengingatkan saya pada satu kejadian. Seperti saya melihat pohon kornel dan inget kalo dulu pernah ngiket nie dan rinta disana pas mereka ulang tahun. Liat apartement zul dan inget pernah bikin kejutan buat zul dan arsha. Inget moment ntn thomas uber bareng. Inget moment sederhana di Kafe. Inget banyak dah..Dan akhirnya sadar..this precious four years will not be forgotten
(6) Dan masa ini tidak akan pernah kembali. Jadi nikmati..
Saya kirim text ini ke beberapa teman dan saudara.. These text are running around in my brain for six months..
and finally the moment had come
Dan ketika saya pegang satu kertas yang menuliskan saya lulus dengan nilai A. Saya cuma bisa merasakan :
(1) Feels good to be a Sarjana Hukum. And I just want to Scream Out Loud..NO MORE SCHOOL. . Bukan ngga ada cita-cita terlalu tinggi tapi selama 22 tahun hidup, cuma 4 tahun saya bebas dari sekolah!!! I need some break!!
(2) Akhirnya saya nggak usah ke RSCM lagi. Oh..i cant explain how hard for me to enter that hospital`s door again..Dan saya harus kesana sekali lagi untuk nganterin skripsi saya..
(3) Ngga ada bangun pagi2 trus ke RSPP. Nunggu dengan perut mules untuk menemui orang yang nggak pernah bisa saya temui. What really happened Mister?
(4) Saya ngga perlu memikirkan si S setiap kali jalan, maen, ntn bioskop, ngeluyur, ng gym..
(5) sejujurnya, saya mengalami moment flashback. Moment dimana saya melihat setiap benda dan mengingatkan saya pada satu kejadian. Seperti saya melihat pohon kornel dan inget kalo dulu pernah ngiket nie dan rinta disana pas mereka ulang tahun. Liat apartement zul dan inget pernah bikin kejutan buat zul dan arsha. Inget moment ntn thomas uber bareng. Inget moment sederhana di Kafe. Inget banyak dah..Dan akhirnya sadar..this precious four years will not be forgotten
(6) Dan masa ini tidak akan pernah kembali. Jadi nikmati..
2 Mei 2010
Hei Kamu
Dedicated to my dearest friend…
(14.03.10)
Hei kamu..
Kamu tahu ..
Bagaimana rasanya ketika aku sadar sedang jatuh cinta, disaat yang sama aku juga sadar aku sedang patah hati.
Kamu tahu rasanya ketika jantungku terasa diremas…
karena cemas kamu akan tahu apa yang kurasa.
Cemas kamu pergi ketika aku berharap kamu tetap disini.
Kamu tahu..
Aku menahan napas sampai lemas ketika bertanya, kenapa kamu ada?
Bagaimana kita sampai disini?
Kenapa ada kebetulan-kebetulan kecil yang terus terjadi merangkai kebersamaan kita yang berlari secepat kilat.
Lalu lenyap seperi asap yang keluar dari cerobong kemudian membumbung tinggi menyatu dengan udara dan tak lagi terditeksi keberadaannya.
Lalu tak ada lagi kita.
Tak ada lagi cerita.
Kamu pergi dan tak peduli lagi.
Dan aku dalam diam terus mencari makna dari…
Pengertianmu yang menghangatkan..
Sikapmu yang selalu membuat rasa hatiku tak lagi bias kudefinisikan.
Makna dari kehadiranmu yang tak terprediksi.
Dan semoga suatu saat nanti kamu tahu..
Aku bukan pasir di pantai, yang bisa menghilangkan cetakan jejak hanya dengan usapan air laut.
Ketika kamu menguap dan lenyap
Aku masih menahan rindu yang meletup, sesak yang menyiksa, jantung yang serasa akan meledak hanya untuk mengatakan padamu…
Hei kamu..
Tahukah kamu..
Selama ini ada rasa sayang yang teperangkap dalam hatiku yang tak pernah sempat terungkap..
(14.03.10)
Hei kamu..
Kamu tahu ..
Bagaimana rasanya ketika aku sadar sedang jatuh cinta, disaat yang sama aku juga sadar aku sedang patah hati.
Kamu tahu rasanya ketika jantungku terasa diremas…
karena cemas kamu akan tahu apa yang kurasa.
Cemas kamu pergi ketika aku berharap kamu tetap disini.
Kamu tahu..
Aku menahan napas sampai lemas ketika bertanya, kenapa kamu ada?
Bagaimana kita sampai disini?
Kenapa ada kebetulan-kebetulan kecil yang terus terjadi merangkai kebersamaan kita yang berlari secepat kilat.
Lalu lenyap seperi asap yang keluar dari cerobong kemudian membumbung tinggi menyatu dengan udara dan tak lagi terditeksi keberadaannya.
Lalu tak ada lagi kita.
Tak ada lagi cerita.
Kamu pergi dan tak peduli lagi.
Dan aku dalam diam terus mencari makna dari…
Pengertianmu yang menghangatkan..
Sikapmu yang selalu membuat rasa hatiku tak lagi bias kudefinisikan.
Makna dari kehadiranmu yang tak terprediksi.
Dan semoga suatu saat nanti kamu tahu..
Aku bukan pasir di pantai, yang bisa menghilangkan cetakan jejak hanya dengan usapan air laut.
Ketika kamu menguap dan lenyap
Aku masih menahan rindu yang meletup, sesak yang menyiksa, jantung yang serasa akan meledak hanya untuk mengatakan padamu…
Hei kamu..
Tahukah kamu..
Selama ini ada rasa sayang yang teperangkap dalam hatiku yang tak pernah sempat terungkap..
30 Mar 2010
My Name is Khan

Menurut saya film ini benar-benar bagus..
Bukan karena bisa membuat saya banjir air mata tapi karena bisa membuat saya terinspirasi. Sebuah inspirasi untuk mempunyai penyadaran baru atas pemikiran saya selama ini.
Sebuah pemikiran bahwa ternyata saya, tidak jauh berbeda dengan teroris. Ya! Saya juga kaget begitu sadar bahwa insan jahat yang dikatakan Rizwan sudah meracuni pikiran saya. Saya baru sadar bahwa selama ini saya ikut-ikutan menilai seseorang dari baju mereka, atribut mereka, wajah mereka, kepercayaan mereka dan bukan dari bagaimana mereka memperlakukan manusia lain.
Saya sadar ternyata saya mempunyai kecurigaan yang sama karena merasa dunia terkotak-kotak dan kotak dimana saya berada adalah kotak yang terbaik. Dan saya harus menghindari manusia lain dari kotak yang saya yakini berisi orang jahat semua.
Dan kecurigaan inilah yang ternyata membuat dunia ini begitu menakutkan. Kecurigaan yang bertebaran dimana-mana yang mengikat seseorang untuk bersikap bebas kepada orang lain yang berbeda. Kecurigaan yang bahkan membuat kita sendiri lelah. Kecurigaan mempersedikit pilihan, membuat ketakutan, membuat jarak penuh permusuhan yang tidak diperlukan.
Kecurigaan seperti ini yang akhirnya membunuh Sameer. Seorang anak baik dan tidak bersalah. Sameer yang bahkan tidak tau terorisme itu apa. Sameer yang juga merasa kesedihan mendalam untuk setiap manusia yang meninggal di menara kembar. Tapi dia yang pergi, hanya karena kecurigaan yang tidak beralasan.
Dunia sudah cukup menakutkan, perang sudah menghancurkan jutaan mimpi. Bisakah kita berhenti saling mencurigai? Kita, orang-orang baik yang hanya ingin hidup tenang, bahagia, yang hanya ingin bermimpi dan membuat nyata mimpi-mimpi itu sudah terlalu lelah atas semua kebencian yang ada selama ini. Kita bisa bersatu bukan untuk kembali berperang dan melawan tapi bersatu untuk menjaga hati jauh dari kecurigaan dan kebencian tanpa alasan.
Memang tulisan ini terdengar terlalu naïf. Dunia sudah terlalu kacau. Milliaran orang sudah berubah menjadi pribadi yang penuh kecurigaan. Hanya keajaiban yang bisa membuat dunia berubah menjadi tempat yang baik untuk kita semua.
Maka ada baiknya kita menjadi keajaiban itu sendiri. Satu persatu dari kita. Yah, selalu ada hitungan pertama sebelum sampai ke hitungan kesejuta. Selalu diperlukan satu rupiah untuk menggenapi satu milliar rupiah. Selalu diperlukan satu orang yang memulai untuk melakukan perubahan di dalam dunia ini. Satu orang, kita masing-masing.
5 Feb 2010
OMELAN
Dalam puncak pencapaian terkadang saya suka berhenti sejenak. Menatap ke belakang, mengumpulkan kembali kepingan-kepingan perjuangan yang membawa saya ke pucak. Kadang menertawakan kelakuan saya. Kadang saya seperti menatap kagum pada diri saya atas keteguhan yang berhadiah kemenangan. Kadang mencemooh diri saya atas kebodohan saya, tangis yang tiba-tiba menjadi konyol, tingkah yang dirasa sangat berlebihan.
Di atas segalanya, ketika sudah di puncak segala lelah, marah, putus asa, sedih, kesal seperti menguap dalam sekejap. Semua perjalanan panjang seperti hanya terjadi satu malam, kalimat “ gua nggak akan mau ngulangin ini lagi” seperti terpental begitu saja. Kita tiba-tiba merasa menjadi jagoan dan tak gentar untuk kembali bertarung dan mengulangi kembali setiap penderitaan yang dulu kita umpah dan maki.
Sekarang saya ada dalam perjalanan melelahkanitu. Saya ingin menuliskan kekesalan itu dan membiarkan diri saya di masa depan yang sudah berdiri dengan senyum kemenangan berkomentar.
“Gua lagi pusing sama skripsi yang nggak ada bener-benernya ini. Masalah topic semester lalu yang mental, udah bias gua laluin. Sekarang gua udah ada di tahap membangun topic baru gua untuk bsia menjadi sebuah skripsi. Tapi setiap gua lagi on fire selalu ada aja pemadan apinya dan membuat gua jadi down. Gua sebel kenapa tiba-tiba jadi nggak tahu apa dulu yang harus dilakuin. Jadi sebel karena gua susah banget dapet ijin penelitian di RS. Kesel karena hrus muter2 di RSCM berjam-jam keliling di satu banguan yang abru pertama kali gua datengin dan nggak tahu harus ngapain juga kemana. Kesel karena akhirnya gua harus kesana lagi. Kesel karena RS yang jadi harapan gua malah membunuh harapan gua sendiri. Kesel karena semua rencana yang udah gua siapin meleset. Terkhai rgua takut harapan gua tak tercapai”
So saya ingin tahu apa komentar diri saya beberapa bulan kedepan.
Di atas segalanya, ketika sudah di puncak segala lelah, marah, putus asa, sedih, kesal seperti menguap dalam sekejap. Semua perjalanan panjang seperti hanya terjadi satu malam, kalimat “ gua nggak akan mau ngulangin ini lagi” seperti terpental begitu saja. Kita tiba-tiba merasa menjadi jagoan dan tak gentar untuk kembali bertarung dan mengulangi kembali setiap penderitaan yang dulu kita umpah dan maki.
Sekarang saya ada dalam perjalanan melelahkanitu. Saya ingin menuliskan kekesalan itu dan membiarkan diri saya di masa depan yang sudah berdiri dengan senyum kemenangan berkomentar.
“Gua lagi pusing sama skripsi yang nggak ada bener-benernya ini. Masalah topic semester lalu yang mental, udah bias gua laluin. Sekarang gua udah ada di tahap membangun topic baru gua untuk bsia menjadi sebuah skripsi. Tapi setiap gua lagi on fire selalu ada aja pemadan apinya dan membuat gua jadi down. Gua sebel kenapa tiba-tiba jadi nggak tahu apa dulu yang harus dilakuin. Jadi sebel karena gua susah banget dapet ijin penelitian di RS. Kesel karena hrus muter2 di RSCM berjam-jam keliling di satu banguan yang abru pertama kali gua datengin dan nggak tahu harus ngapain juga kemana. Kesel karena akhirnya gua harus kesana lagi. Kesel karena RS yang jadi harapan gua malah membunuh harapan gua sendiri. Kesel karena semua rencana yang udah gua siapin meleset. Terkhai rgua takut harapan gua tak tercapai”
So saya ingin tahu apa komentar diri saya beberapa bulan kedepan.
Langganan:
Postingan (Atom)